Sistem informasi geografis berbasis web yang menyajikan sebaran kejadian tanah longsor di Kecamatan Basse Sangtempe Utara, Kabupaten Luwu, beserta analisis faktor penyebabnya.
Fondasi metodologi dasar pemetaan dan karakterisasi kejadian longsor.
Penggunaan lahan, deforestasi, pembangunan infrastruktur, aktivitas pertanian, pertambangan, dan sistem drainase.
Curah hujan, jenis tanah, kemiringan lereng, kondisi geologi, gempa bumi, dan erosi alami.
Kec. Basse Sangtempe Utara, Kab. Luwu — 12 desa dengan morfologi perbukitan rawan longsor.
Mengenali tanda awal longsor penting untuk menyelamatkan diri sebelum bencana terjadi.
Langkah mengurangi risiko dan dampak longsor, baik struktural maupun non-struktural.
Pembangunan dinding penahan tanah, konstruksi drainase, soil nailing pada area kritis, saluran air hujan terencana, serta reboisasi dan penanaman vegetasi penstabil tanah.
Penyusunan peta rawan longsor, penetapan zona larangan pembangunan, sosialisasi masyarakat, pembentukan kelompok tanggap bencana, simulasi evakuasi, dan early warning system.
Segera menjauhi area lereng, cari tempat tinggi stabil. Keluar dari bangunan, hindari jalan di bawah tebing. Hubungi BPBD dan ikuti arahan evakuasi.
Pertanian konservasi seperti terracing dan guludan, kontrol penambangan galian C, atur tata ruang dengan mempertimbangkan indeks kerawanan, dan pastikan infrastruktur dilengkapi analisis geoteknik.
Klasifikasi berdasarkan mekanisme pergerakan material (Taksonomi Varnes, 1978).
Pergerakan massa tanah secara horizontal sepanjang bidang gelincir yang relatif datar. Paling umum terjadi, dipicu jenuhnya air pada lapisan tanah lempung.
Pergerakan tanah dengan mekanisme putaran sepanjang bidang gelincir cekung. Ciri khasnya munculnya scarp di bagian atas dan gundukan di kaki longsoran.
Jatuhnya material batuan dari tebing curam secara bebas. Material bergerak sangat cepat tanpa bidang gelincir jelas, terutama setelah hujan deras.
Jelajahi peta untuk melihat distribusi kejadian longsor beserta faktor penyebabnya.